×
Untitled-1

Menguatnya Mata Uang Rupiah Terhadap Dolar Amerika

bandarjudi66
Belum lama ini banyak berita tentang kinerja buruk yang di lakukan pemerintahan ataupun perekonomian negara yang mulai menurun sehingga mata uang Rupian yang anclok terhadap mata uang dolar Amerika Serikat  yang membuat banyak pengusaha yang merasakan efek nya hal tersebut menjadi permasalahan yang terus di perbaiki pemerintahan Indonesia untuk menstabilkan Rupiah atau menguatkan nilai tukarnya.

Baru-baru ini Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat beberapa hari ini. Pada Jumat ini saja, Rupiah bahkan perkasa hingga kisaran 14.200 per USD.

Peneliti Center of Reforms on Economics (CORE), Piter Abdullah mengatakan, ada dua faktor yang menjadi penyebab penguatan Rupiah selama tiga pekan terakhir. Pertama, yakni faktor-faktor pendorong (push factors) berupa sentimen negatif atas kondisi perekonomian AS.

"Kita ketahui bahwa seiring meningkatnya intensitas perang dagang AS - China, pertumbuhan ekonomi AS justru mengalami perlambatan. Perlambatan pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan akan direspons oleh The Fed dengan menunda kenaikan suku bunga," jelas dia kepada Liputan6.com, Jumat (30/11).

Dia menambahkan, perkiraan tersebut semakin diperkuat dengan adanya sinyal dari Gubernur The Fed dalam waktu dekat ini, untuk tidak menaikkan suku bunga acuan para Desember mendatang.

"Perlambatan pertumbuhan AS ditambah penundaan suku bunga The Fed membuat para investor global mulai mengalihkan dana investasinya ke negara-negara yang dianggap memiliki prospek keuntungan terbesar ke depan," sambungnya.

Indikator kedua, lanjutnya, yakni faktor-faktor yang menarik masuknya aliran investasi ke Indonesia atau disebut pull factors. Menurutnya, beberapa indikator ekonomi Indonesia menunjukkan prospek keuntungan yang menarik bagi investor asing.

"Prospek keuntungan ini ditunjukkan oleh yield SBN yang sudah demikian tinggi dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 175 bps sejak Mei yang lalu, serta harga saham yang sudah demikian murah, diindikasikan oleh PER yang rendah," ungkapnya.

"Selain itu, prospek investasi di Indonesia diperkuat oleh tren penurunan harga minyak selama sebulan terakhir. Penurunan harga minyak diyakini akan memperkuat neraca perdagangan sekaligus mengurangi beban APBN," dia menambahkan.

Piter Abdullah menyimpulkan, kombinasi kedua faktor tersebut menyebabkan derasnya aliran modal asing masuk ke dalam negeri, serta turut mendongkrak kurs Rupiah."Kombinasi push factors dan full factors menyebabkan aliran modal asing dalam bentuk portfolio mengalir deras ke Indonesia, dan mendorong penguatan Rupiah secara drastis dan cepat," ujar dia.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.